Pahlawan Jurnalistik itu sekarang Berdagang Bambu ke Mancanegara

“Sebungkus roti, aku potong untuk pagi, potongan kedua untuk siang dan sisanya untuk mengisi perutku di malam hari“. Tak ada hari yang aku lewati tanpa perjuangan, tekadku saat berangkat dari Padang Sidempuan ke Jakarta adalah kuliah.  Bagaiamana caranya.  Aku pun memandang langit untuk memohon keridhoanNya.  Bismillahiromanirohim

Peraih Adinegoro thn 1993,

Ekportir sejak 1999 – Peraih Penghargaan Primanyarta Award 2013, Prabaswara Award 2013, Pramakarya Award 2017

Bengkel mobil 2008 – sekarang,

Developer 2018 – sekarang

Khairul Pulungan, founder dan owner CV Shaniqua MARIGOLD Bambo, perusahaan furniture bamboo ekspor sejak tahun 1999 sampai sekarang.  Lahir di kota Medan pada 27 November 1962, menyelesaikan SD, SMP, SMA di Kota Padangsidempuan. Suami dari Siti Sundari dan ayah untuk Shaniqua Adalawiya, Namora Fatrinka, Syahdani Douhari Pulungan dan Azahra Arianti.

 

“Ayah aku mau kuliah”

Ayahnya sejak awal sudah bilang tak mampu mengongkosi kuliahnya, tapi keinginan kuatnya untuk kuliah sangat besar.  Dengan semangat ingin merubah hidup masa depan, akhirnya ia memberanikan diri berangkat.  Ayahnya menyelipkan uang Rp. 60 000.- sebagai bekal.  Menumpang bis Sampagul. Perjalanan Padangsidempuan – Jakarta terasa lama dan mendebarkan.

Ternyata apa yang terjadi; kuliah di Jakarta itu tidak semudah seperti kubayangkan.  Kadang terbersit, kenapa sewaktu SMA aku tidak serius belajar, agar memudahkan aku bisa masuk PTN di JKT.  “.  Aku terlalu sibuk dengan membantu Ibuku ke sawah.  Selalu tak tega memandang ia berangkat ke sawah sendiri.  Dan itulah yang membuat sepanjang di kelas, aku gelisah ingin cepat cepat pulang dan menyusulnya ke sawah.

Dan saat kebingungan tak diterima di perguruan tinggi negeri idamanku.  Uang bekal tinggal tersisa Rp. 6 500.- Maka akupun memberanikan diri untuk mendaftarkan diri di Kampus Tercinta, STP (Sekolah Tinggi Publisistik sekarang IISIP Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).

Banyak kawan memudahkan aku melanjutkan kuliah dan hidup di metropolitan.  Ternyata di kampus ini banyak bertemu saudara satu kampung.  Salah satunya yang tak bisa dilupakan jasanya,  seorang abang yang ternyata beliau memiliki jabatan  berkaitan dengan pembayaran kuliah.  Abang Nasution, aku panggil beliau dengan sebutan Bang Nas, Aku pun dibantu untuk bisa mencicil pembayaran kuliah setiap semesternya.

Di waktu waktu senggangnya Khairul Pulungan kerap berada di daerah Jl. Gajah Mada, Hayam Wuruk Jakarta Pusat,  ia bersama beberapa sepupunya dan adiknya berjualan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) yang pada tahun 80an dilegalkan, dan ini pun keberuntungan karena modal pergaulan boi do mangolu au…. Pandai bergaul dan menghormati dan saling mengayomi persaudaraan.  Berpeluh dan berkeringat sampai kampus itu sudah terbiasa, agar tak bau keringat ia sering berganti baju sebelum masuk kelas kuliah.

Hidup di jalanan, makan tidak makan dijalaninya sampai menjelang akhir akhir kuliah.  Ia berpikir bagaimana bisa lulus kuliah bila kerjanya di jalanan berjualan SDSB. Keputusan untuk tidak meneruskan profesi ini pun diambil. Namun kebutuhan tetap harus dipenuhi, “memaksa” ia memutar otak.

Lantaran hanya memiliki mesin ketik (hadiah dari uwa Aziz Pulungan yang saat itu menjabat sebagai anggota DPR RI), jadilah beralih profesi menjadi tukang ketik. Uang jasa dari tukang ketik itulah yang menopang hidupnya kemudian hari.  Selain itu ia juga membuka  jasa mengerjakan paper atau makalah mahasiswa, jasa mengerjakan skripsi mahasiswa – hingga mentetir saat si mahasiswa tersebut akan bertemu dosen pembimbing – sampai mahasiswa tersebut sidang skripsi.  Banyak kaka kelas dan teman temannya yang memanfaatkan jasanya.  Modal ketik dua jari berhasil memeluluskan teman temannya sebagai sarjana komunikasi.  Kegiatan tersebut ia lakukan hingga menyelesaikan kuliahnya tahun 1988.

 

Berkarir wartawan di tabloid wanita

Setelah lulus dari Sekolah Publisistik tahun 1988, ia pun mengirimkan lamaran ke sejumlah perusahaan. Pengalaman bekerja pertamanya setelah lulus kuliah menjadi wartawan ekonomi di Koran Harian Neraca.

Setahun berlalu tepatnya tahun 1989, ia pindah ke  tabloid yang baru terbit, yakni “Wanita Indonesia”, milik Siti Hardijanti Rukmana, atau dikenal juga dengan Mbak Tutut, putri dari Presiden Indonesia kedua, Presiden Soeharto.  Khairul Pulungan turut andil membesarkan Tabloid Wanita Indonesia, sampai oplahnya mencapai 300.000 eksemplar.

Di sela sela kesibukanya sebagai wartawan ia ditunjuk oleh Dona Sita sebagai PEMRED Wanita Indonesia untuk menjadi humas hampir di seluruh kegiatan Mbak Tutut.  Salah satunya adalah  Humas Kirab Remaja yang dipelopori Mbak Tutut sejak era 90-an yang bertujuan untuk memupuk rasa cinta tanah air di kalangan remaja.  “Setiap ada kegiatan Mbak Tutut saya selalu mendampingi. Dimana beliau berkegiatan, saya PR-nya (Public Relations). Dimanapun beliau, saya selalu ada. saya tidak tahu kenapa saya yang dipilih, saya dekat dengan Mbak Tutut, sebagai wartawan dengan bos saja,” ungkapnya.

Ketangkasannya dan kejelian Khairul Pulungan di lapangan untuk mengangkat suatu berita yang akan diolah di dapur tabloid Wanita Indonesia, membuka jalan kesempatannya  mengikuti ajang kompetisi menulis bergengsi dunia jurnalistik   yang diadakan Dewan Pers bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.  Ia pun meraih penghargaan tertinggi Adinegoro Award 1993, dengan judul tulisan “Menyusuri Perkampungan di Perbatasan Indonesia Filipina” – saat itu ia mendapat julukan wartawan muda dan Pahlawan Jurnalistik oleh Tribuana Said, R.H Siregar dan Dona Sita para seniornya.

Mendapat selamat dari Mbak Tutut.

Catatan sejarah lainnya yang sempat Khairul Pulungan liput dan menjadi viral masa itulah adalah silaturahmi dua putri sulung Presiden RI Pertama  dan Presiden RI Kedua,  yaitu Mbak Tutut dan Megawati, di kediaman Mbak Tutut Jl. Waringin Menteng.  “Hanya saya satu satunya wartawan yang boleh ada dalam ruangan itu untuk mengabadikan mereka berdua. Foto hasil jepretan saya tersebar ke seluruh media Indonesia dan international “, kenangnya.

 

 

 

 

Adinegoro Award 1993 diserahkan oleh Menteri Penerangan Harmoko.

Meninggalkan Dunia Jurnalistik

Penghargaan tertingggi di profesinya sudah ia dapatkan, hampir seluruh Indonesia sudah dijelajahi.   Saatnya memasuki tahun ke 10 sebagai wartawan dan Redaktur Senior di tabloid Wanita Indonesia, Khairul Pulungan menggantungkan penanya.  Di usia pernikahannya yang ketiga tahun dengan Sundari itulah ia berpikir untuk mengikuti nurani dan bakatnya berbisnis.

Di mulai dengan sering mengunjungi kampung halaman sang istri di Rangkasbitung. Lebak, Banten.  Kejelian serta kreatifitas di saat menjadi wartawan itulah mengganggu pikirannya. Ia ingin menciptakan sebuah karya berdasarkan sumber daya alam terbanyak di negeri ini dan jarang ada yang melirik yaitu bambu.

Dok foto Tabloid Wanita Indonesia – Khairul Pulungan.

Semua ide dipertimbangkan, sekiranya apa yang memberikan nilai ekonomis tinggi dari kerajinan bambu. Dicermati juga material yang melimpah dan murah.  Berdasarkan pengamatannya  di Kabupaten Lebak ternyata banyak  pengrajin furniture bambu tradisional.  Mereka memiliki keahlian yang diwariskan turun temurun.   Sebagai tempat kerja atau bengkel kerja ia pun memberanikan diri untuk menyewa  tanah kepada ibu mertuanya sebidang lahan 1000 meter.  Dan ruang pamer ia pun disiapkan, ia menyewa lahan di Kemang Timur Jakarta Selatan untuk dijadikan galeri.

Berbekal pesangon 36 juta hasil pengabdian menjadi wartawan tekad bulatnya segera diwujudkan, ia pun mulai merekrut tukang bambu 3 orang untuk membuat sample sample furniture bambu dan dipajang, dengan harapan para expatriat di sekitaran Kemang berkunjung.  Angan angan jadi eksportir semakin mendekat,  dolar melonjak dari Rp. 2000.- menjadi Rp. 17 500.-.  Kesempatan ini membulatkan tekad untuk berbisnis dengan tujuannya adalah pasar ekspor.

 

Order Perdana 13 kontainer ke Spanyol

Indonesia krisis ekonomi 1998 memberikan peluang seluas luasnya untuk UKM mengikuti pameran International yang diadakan oleh Kementrian Perdagangan.  Khairul Pulungan yang tak bisa  berbahasa Inggris dan tidak mengetahui secara detail apa serta bagaimana kualitas barang ekspor,  apa lagi detail bersaing di negara tujuan ekspor.  Ia memberanikan diri unjuk gigi ketika diberikan kesempatan numpang ikutan Pameran Produk Ekspor di PRJ Kemayoran Jakarta Oktober 1998.  Alat promosinya hanya kartu nama dan brosur sederhana.

Seperti kata bijak “Masa depan yang cerah tidak pernah dijanjikan oleh siapapun, kamu harus mengejarnya sendiri”.  Khairul Pulungan yang di support terus oleh Sundari sang istri yang tetap bekerja di TV nasional, melangkah terus dan tak pernah diam, sampai pada suatu hari di awal tahun 1999, ada seseorang yang mengaku sebagai trader mengkontaknya minta bertemu untuk rapat.  Dan calon buyer mensyaratkan dibuatkan sebuah sample produk untuk di kirim ke Spanyol.

Sample produk pun dibuat tapi gagal.  Dibuat lagi gagal lagi, dan dicoba lagi.  Modal sudah semakin menipis.  Keberuntungan masih berpihak karena pihak buyer (trading) mau bersabar menunggu sampai sample benar benar sempurna di terima.  Hampir 3 bulan sample dibuat dengan persyaratan sesuai dengan tujuan negara ekspor.  Saat yang ditunggu pun datang sample diterima oleh pihak calon buyer, order turun 13 kontainer dalam kurun waktu 4 bulan harus selesai.

Masya Allah, Inilah yang dikendaki Allah; “Optimisme adalah kepercayaan yang mengarah pada pencapaian. Tidak ada yang bisa dilakukan tanpa harapan dan keyakinan;” – (Red.Hellen Keller).  Kontainer perdana membuat heboh kota kecil Rangkasbitung, jajaran PEMDA Lebak mengapresiasi pemberangkatan kontainer perdana.  Allah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan project perdana ini.  Dari hanya 3 tukang, Allah mengirimkan balabantuan 150 tukang baru yang berdatangan dari sekitaran Lebak.  Secara otomomatis ekonomi Lebak berputar, para pengangguran bekerja, petani bambu termanfaatkan.

Sejak hari itu Khairul Pulungan menyadari, ketika barang hasil produksinya sudah dapat menembus pasar Eropa, maka peluang berkembang semakin besar.   Standar kualitas negara negara di Eropa khususnya Jerman menjadi ukuran keberhasilan untuk masuk ke negara negara Eropa lainnya.   Sukses bukanlah kebetulan. Ia terbentuk dari kerja keras ketekunan, pembelajaran, pengorbanan, dan yang paling penting, cinta akan hal yang sedang atau ingin kamu lakukan.” (Red. Pele)

Kepercayaan dirinya sebagai eksportir muda terus berkembang karena setiap tahun bertambah buyer buyernya, seperti Jerman, Belanda, Italia, Perancis dan sebagian lainnya dari Eropa. Yang semula hanya berbekal tekad, perlahan lahan ia mulai membeli lahan, 500 meter, 1000 meter sampai lebih 2 HA, yang semuanya untuk kepentingan workshop bekerja pembuatan furniture bambu.  Staf dan para pengrajin yang bekerja di SHANIQUA BAMBOO yang semula tak punya rumah kini memliki rumah.  Yang rumahnya kecil menjadi besar.  Yang tadinya datang bekerja dengan berjalan kaki sekarang punya kendaran.  Yang bujang sudah berkeluarga.  Khairul Pulungan memiliki kharisma tersendiri bagi para pekerjanya, karena ia menciptakan suasana kekeluarga di lingkungan pabriknya.

Khairul memiliki sikap apapun usaha yang kamu kerjakan untuk meraih kesuksesan, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Tidak peduli apakah kamu melakukannya dengan terburu-buru atau perlahan-lahan, yang terpenting adalah jangan pernah untuk berhenti.  Berbagai penghargaan di bidang UKM pun dianugerahkan kepadanya  Primanyarta Award 2013 – KEMENDAG RI penyerahan oleh Wakil Presiden Budiono. Prabaswara Award 2013 – KEMENKOP UKM RI, Pramakarya Award 2017 – KEMENTRIAN KETENAGAKERJAAN RI penyerahan Wakil Presiden Yusuf Kalla.


Jurnalis, eksportir, montir, kontraktor dan developer

Khairul Pulungan sang mantan wartawan mengasah terus jiwa entrepreneur-nya dengan meluaskan bidang bisnisnya dengan membuka jasa carwash dan bengkel mobil tahun 2008 memperkerjakan 12 orang.  Saat yang sama kondisi ekonomi Eropa sedang krisis global.  Ekspor antara tahun 2000 – 2006 jumlah kontainer berangkat 4 sampai 5 per bulan, mengalami penurunan.   Pengurangan pekerja dari 100 orang menjadi 75 sampai ke 50 orang.

Di tahun yang sama ia mencoba peruntungan menjadi kontraktor dengan memperkerjakan para tenaga ahli sipil dan interior designer.  Ia mencoba mengerjakan proyek pemerintah.   Dan berhasil membangun beberapa  gedung dan perkantoran.   Kegiatan kontraktor berhenti tahun 2014, saat Khairul Pulungan terkena serangan jantung yang mengharuskan memakai stent jantung.

Ketika masa rehat ia berpikir “Perlu sedikit ketegasan dalam menentukan jalan hidupmu. Kalau tidak, kamu bisa terombang-ambing dan pada akhirnya terbawa arus. Atau malah, mungkin nasibmu justru akan dikendalikan orang-orang terdekatmu”.  Ia memutuskan berhenti jadi kontraktor terlalu besar resiko.  Kembali ia menekuni Shaniqua Bamboo yang sempat benar benar diserahkan kepada orang kepercayaan di pabrik.  Dan sampai hari ini pasar setia untuk produk furniture karyanya adalah Perancis, Jerman dan Belanda.

Istrinya Sundari menyebutnya workaholic, tak bisa diam, tak bisa berenti mencipta.  Akhir tahun 2018 ia memutuskan untuk merelokasi pabrik bambunya ke lahan lainnya yang lebih strategis.  Sementara pabrik lamanya dibuat perumahan subsidi untuk warga sekitaran Kabupaten Lebak.  Di lahan yang ia beli bertahap, sedikit demi sedikit hasil berjualan bambu kini sudah berubah menjadi komplek perumahan Padjajaran Bamboo Resindence dengan 450 unit rumah.  Tahap 1 terjual sukses dalam kurun waktu 1,5 tahun menjual 200 unit rumah.  Andai pandemi COVID 19 mungkin sudah habis laris manis tahap 2 dan tahap 3. Khairul Pulungan meyakini akan ada hikmah dibelakang pandemi saat ini.

Pulang Kampung

Kanak kanak hingga remaja dihabiskan waktu luangnya di sawah bersama ibunda tercinta.  Kenangan susah dan indah saat itu, menginspirasi sepertinya saya harus memulai memikirkan untuk pulang ke kampung, melihat ke kampung ada apa di sana.  Pulang tak ingin hanya berpangku  tangan. Dimulai pada tahun 2016 dengan menabung lahan kopi hanya seluas 7000 M2, disekitar tanah leluhurnya di Sipirok Ibu kota Tapanuli Selatan.

Sekali lagi kejelian melihat peluang, pada Agustus 2019 lalu, ia telah menyelesaikan pembangunan bagas (rumah) parsadaan turunan almarhum Sutan Mara Alam Pulungan, di Salasa Kelurahan Baringin, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.  Bangunan dengan 11 kamar ini dijadikan sebagai guest house diperuntukan tempat singgah bagi keturunan langsung alm. Opung Sutan Mara Alam Pulungan yang datang berkunjung ke tanah Sipirok. Selain itu juga dijadikan sebagai guest house para wisatawan yang menikmati sejuknya kampung Sipirok.

“Merantau akan memberikanmu banyak pengalaman hidup. Pergilah sejauh mungkin, tapi jangan sampai lupa pulang”.  Bangunan ini merupakan bentuk kepedulian dan mengingatkan kembali akan kampung halaman saya, sekaligus mendorong destinasi wisata di daerah ini,” kata Khairul Pulungan.

Di usia yang mulai memasuki masa pensiun, ia berharap bahwa karya ini adalah karya terakhir yang ia tinggalkan sebagai warisan  untuk  anak anaknya ( Shaniqua Adalawiya lulus S1 ITB dan S2 Bisnis di  Inggris, saat ini mejabat sebagai Head of Customer Success di salah satu start up terkenal Indonesia, Namora Fatrinka lulus dari BINUS interior designer bekerja di kantor konsultan interior terkemuka di JKT, Syahdani Douhari Pulungan semester akhir kuliah Hukum di UNPAR – Bandung, Azahra Ariyanti sedang menuntu ilmu di Pesantren Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan di Sipirok).

Bahwa ayahnya pernah membangun kampung baru di Sipirok, dengan membangun 52 kavling dalam 4 bulan terjual habis, dengan terintragasi kelak dengan kampung wisata kopi, restoran dan guest housenya.

Khairul Pulungan selalu berpegang teguh “Kesuksesan akan terhapus oleh waktu, namun menjadi manusia berguna karyanya akan selalu hidup.    Insyaa Allah. (Sudin Hasibuan/Abdullah Karim Siregar)

Leave a Comment!