Masyarakat Diminta Jangan Lengah, Terus Patuhi Protokol Kesehatan

Jakarta, PUBLIKASI – Setelah berjalan lebih dari delapan bulan, belum ada tanda-tanda laju penularan virus corona dapat dikendalikan hingga saat ini, Jumat (13/11). Hal ini terlihat dengan masih bertambahnya kasus Covid-19 di Tanah Air, dengan angka yang masih tinggi, bahkan di atas 5.000 orang dalam sehari.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada Jumat pukul 12.00 WIB, ada 5.444 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir.  Ini merupakan rekor tertinggi penambahan pasien Covid-19 dalam sehari, selama pandemi menerpa Indonesia.

Penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia kini mencapai 457.735 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020.

Informasi ini disampaikan Satgas Covid-19 melalui himpunan data yang diterima wartawan pada Jumat (13/11) sore. Data juga bisa diakses publik melalui situs Covid19.go.id dan Kemkes.go.id, dengan pembaruan yang muncul setiap sore.

Sementara pasien yang sembuh dari Copid-19  juga semakin banyaknya. Dalam sehari, ada 3.010 pasien Covid-19 yang sembuh setelah dianggap tidak lagi terinfeksi virus corona. Total pasien Covid-19 yang sembuh kini mencapai 385.094 orang sejak awal pandemi.

Mereka dinyatakan sembuh berdasarkan pemeriksaan dengan metode polymerase chain reaction (PCR) yang memperlihatkan hasil negatif virus korona.

Akan tetapi, masih ada kabar duka dengan bertambahnya pasien Covid-19 yang meninggal dunia. Pada periode 12-13 November 2020, terdapat 104 pasien Covid-19 yang tutup usia. Sehingga, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia kini mencapai 15.037 orang.

Adapun, dengan pembaruan data tersebut maka saat ini ada 57.604 kasus aktif Covid-19 di Indonesia. Selain kasus positif, pemerintah juga mengungkap bahwa ada 58.896 orang yang berstatus suspek terkait penularan virus corona.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta masyarakat agar terus menjaga jarak dan menerapkan protokol kesehatan Menurutnya, efektivitas penekanan risiko penularan akan lebih maksimal dengan menerapkan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

“Saya imbau masyarakat jangan lengah, karena pandemi masih berlangsung. Risiko penularan bisa ditekan lebih maksimal dengan protokol kesehatan,” ujar Wiku dikutip dari siaran pers Tim Komunikasi Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Jumat (13/11).

Wiku juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada penularan virus corona. Sebab, berbagai belahan dunia saat ini sedang mengalami fenomena gelombang kedua atau second wave pandemi Covid-19. Gelombang kedua adalah tren kenaikan kasus yang kembali memuncak setelah mengalami kurva penambahan kasus yang melandai.

“Bahwa lonjakan kasus, merefleksikan kenaikan kasus aktif atau orang yang sakit, baik yang tengah menjalani isolasi atau dirawat akibat Covid-19,” katanya.

Wiku pun kembali mengingatkan, menurut WHO, gejala Covid-19 akan muncul atau dapat dirasakan setelah lima atau enam hari dari terpapar virus Covid-19. Atau, paling lama dapat dirasakan setelah 14 hari, bahkan terkadang tidak tampak sakit. Pada umumnya, ada dua istilah untuk membedakan pasien Covid-19.
Pertama, asimtomatik yang berarti dapat menularkan tanpa menunjukkan gejala apa pun.Kedua, presimptomatik yang berarti orang yang masih dalam tahap pengembangan gejala atau berada dalam masa inkubasi.

Lebih lanjut, Wiku juga merujuk pada tiga penelitian yaitu dari Kronbichler, et al, pada 506 pasien dari 36 studi (2020); He, et al, pada 50 pasien dari 114 studi (2020); dan Yu, et al, pada 79 pasien dari tiga rumah sakit di Wuhan China pada 2020.

Ketiga penelitian itu menyatakan bahwa, kebanyakan penderita Covid-19 yang tidak bergejala adalah populasi berusia muda dan berpotensi menularkan orang-orang sekitarnya.

“Hal ini fenomenanya juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil riset itu, apabila seseorang terlihat sehat, bukan berarti mereka terbebas atau tidak berada dalam kondisi sakit,” ujar Wiku. (Red)

Leave a Comment!