Kabul, PUBLIKASI – Kondisi keamanan di Afghanistan berangsur normal setelah pasukan Amerika Serikat (AS) hengkang. Saat ini Taliban fokus membentuk pemerintahan setelah pasukan Amerika Serikat (AS) secara resmi meninggalkan Afghanistan pada Senin (30/8) malam.
Seorang pejabat tinggi Taliban, Hekmatullah Wasiq, mendesak orang-orang untuk kembali bekerja.
Ia menekankan kembali tawaran amnesti Taliban kepada semua warga Afghanistan yang telah berperang melawan kelompok militan itu selama 20 tahun terakhir. Wasiq meminta masyarakat untuk bersabar karena situasi Afghanistan akan kembali normal dalam beberapa waktu mendatang.
“Masyarakat harus bersabar. Pelan-pelan semua akan kembali normal. Ini akan memakan waktu,” ujar Wasiq.
Taliban kini menghadapi tantangan untuk mengatur negara berpenduduk 38 juta orang yang sangat bergantung pada bantuan internasional. Krisis ekonomi di Afghanistan memburuk sejak Taliban kembali berkuasa pada pertengahan Agustus. Nilai mata uang lokal anjlok dan sebagian besar cadangan devisa Afghanistan yang disimpan di luar negeri telah dibekukan.
Pemandangan nntrean warga di bank tampak mengular karena masyarakat ingin menarik semua uang tabungan mereka. Perbankan di Afghanistan memberikan batas maksimal penarikan uang tunai sekitar 200 dolar AS.
Dan pegawai negeri belum menerima gaji selama beberapa bulan. Seorang petugas polisi lalu lintas yang bertugas di dekat bandara, Abdul Maqsood, mengaku belum menerima gaji selama empat bulan. “Kami terus bekerja tetapi kami tidak dibayar,” kata Maqsood.
Lebih dari setengah warga Afghanistan bertahan hidup dengan penghasilan kurang dari satu dolar sehari. Bagi warga miskin Afghanistan, perubahan dari satu sistem pemerintahan ke sistem yang lain tidak memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari. *Sudin Hasibuan