AUKUS Laut China Selatan Buat Panas Dingin Negara Asia Tenggara

Amerika Serikat, PUBLIKASI – AUKUS (Pakta perjanjian antara Amerika Serikat, Inggris dan Australia) membuat negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia terkepung senjata nuklir dari arah utara dan selatan.

Bagaimana tidak, keberadaan AUKUS ini memberikan dukungan kepada Amerika dan Inggris untuk membantu Australia memperoleh kapal selam bertenaga nuklir. Ini memungkinkan angkatan laut Australia untuk melawan sejumlah negara yang dianggap ‘musuh’ di kawasan Asia Pasifik seperti China.

“Ini akan memberi Australia kemampuan kapal selam mereka untuk dikerahkan untuk waktu yang lebih lama, lebih tenang, lebih mampu, memungkinkan kita untuk mempertahankan dan meningkatkan pencegahan di seluruh Indo-Pasifik,” kata seorang pejabat senior administrasi AS dikutip CNBC Internasional, dikutip Sabtu (25/9/2021)

Sebelumnya, Malaysia menyatakan keprihatinannya, mengatakan rencana Australia untuk membangun kapal selam nuklir di bawah pakta baru AUKUS dengan Inggris dan Amerika Serikat, dapat mengkatalisasi perlombaan senjata nuklir di kawasan Indo-Pasifik.

Malaysia juga melihat AUKUS bisa menstimulus tindakan lebih agresif dari negara-negara yang berseteru. Terutama di kawasan Laut China Selatan (LCS) yang memang sudah mengalami ketegangan saat ini.

Di bawah pakta AUKUS, Australia akan menjadi negara ketujuh yang memiliki kapal selam nuklir, dan menjadi negara kedua yang diberi teknologi itu setelah Inggris pada 1958. Australia akan membangun delapan kapal selam bertenaga nuklir di bawah kemitraan keamanan Indo-Pasifik yang telah membuat marah Cina.

“Apa yang kami lihat di kawasan Indo-Pasifik adalah serangkaian keadaan untuk menjadi lebih mumpuni. Ini memungkinkan Australia untuk bermain di level yang jauh lebih tinggi, dan untuk meningkatkan kemampuan Amerika,” terang pejabat senior administrasi AS tersebut.

Mengetahui hal demikian, Kantor Perdana Menteri Malaysia mengatakan, “Ini akan memprovokasi kekuatan lain untuk juga bertindak lebih agresif di kawasan itu, terutama di Laut Cina Selatan,” seperti dikutip dari Reuters, 19 September 2021.

Kondisi ‘seakan aroma tak sedap’ ini membuat Indonesia akhirnya angkat bicara dan menyampaikan agar mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perbedaan secara damai.

“Indonesia sangat prihatin atas terus berlanjutnya perlombaan senjata dan proyeksi kekuatan militer di kawasan,” tulis Kementerian Luar Negeri melalui akun Twitter @Kemlu_RI.

Indonesia mendorong Australia dan pihak-pihak terkait lainnya untuk terus mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perbedaan secara damai. Dalam kaitan ini, Indonesia menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional termasuk UNCLOS 1982 dalam menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan.

Untuk diketahui, AUKUS terbentuk di tengah meningkatnya pengaruh dan ancaman China pada kawasan Asia Pasifik. Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, bahwa China sendiri juga diketahui memiliki 350 unit senjata nuklir, ketiga terbanyak setelah AS dan Rusia.

Tak ayal, ketika China mengklaim 90% wilayah Laut China Selatan dengan ‘sembilan garis putus-putus’, menjadikan ‘suhu memanas’ di beberapa negara. Alhasil, China bersitegang dengan Vietnam, Filipina, Malaysia termasuk RI di Natuna Utara.

Perlu diketahui, Laut Tiongkok Selatan atau Laut Natuna Utara adalah laut tepi, bagian dari Samudra Pasifik, yang membentang dari Selat Karimata dan Selat Malaka hingga Selat Taiwan dengan luas kurang lebih 3500000 kilometer persegi. Laut ini memiliki potensi strategis yang besar karena sepertiga kapal di dunia melintasinya. (Wikipedia)

Melihat ‘ada celah’ Kemudian AS masuk ke persoalan ini dengan alasan ‘kebebasan navigasi’. Alhasil, AS pun kerap wara-wiri dengan kapal perang di sejumlah negara sekutu, seperti Filipina.

Selain itu, negara yang dipimpin Joe Biden juga gencar ‘merayu’ sejumlah negara untuk bersama-sama menghalau China. Bahkan Wakil Presiden AS, Kamala Harris, bulan lalu sempat mendatangi Singapura dan Vietnam untuk hal serupa. (Red)

Leave a Comment!