Sipirok, PUBLIKASI – Sore itu, tepatnya Sabtu (10/12/2022), sekitar pukul 15.10 WIB, langit Desa Situmba, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Sumut), tampak mendung dan gelap. Sesekali terdengar bunyi gemuruh sebagai pertanda akan turun hujan.
Kondisi mendung demikian menjadi salah satu kendala bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pengolahan kopi yang pernah dialami MJCoffe Sipirok. Utamanya dalam tahap atau proses pengeringan biji kopi.
Padahal, pengeringan merupakan salah satu tahap pengolahan kopi untuk mendapatkan kualitas biji kopi yang prima sebelum digiling hingga kemudian siap jual atau dapat dikonsumsi. Sementara proses pengeringan dengan cara penjemuran atau mengandalkan sinar matahari langsung, rata-rata membutuhkan waktu tiga sampai lima hari.
Dalam kondisi musim hujan atau matahari tidak bersinar terang, proses pengeringan bisa menghabiskan waktu lebih lama yang kerap menyebabkan biji kopi menjadi berjamur. Hal ini pada akhirnya akan mengurangi kualitas kopi itu sendiri.
“Bukan tidak bersyukur atas kondisi alam demikian, tapi cuaca mendung dan musim hujan seperti sekarang ini bisa membuat proses pengeringan biji kopi membutuhkan waktu yang lebih lama. Akibatnya biji kopi seringkali menjadi berjamur karena saat itu proses pengeringan yang kami lakukan masih mengandalkan sinar matahari langsung,” tutur Nanang Gunawan, pimpinan MJCoffee Sipirok mengawali perbincangan dengan Abdullah Karim Siregar dari koranpublikasi.com.
Dampak lainnya, kapasitas produksi yang dihasilkan MJCoffee Sipirok sangat terbatas. Seringkali tidak dapat memenuhi permintaan pasar dari luar Kota Sipirok, apalagi memenuhi pesanan yang datang dari provinsi lain dan luar negeri. Pasalnya, kapasitas produksi unit usaha Kelompok Tani Kopi Sipirok Maju Jaya ini, hanya sekitar 200 kilogram per bulan ketika masih mengandalkan sinar matahari semata.
Namun kondisi berbeda kini dirasakan Nanang sejak mendapat dukungan dan pendampingan dari PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero) lewat Rumah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Padang Sidempuan, Sumut, sejak Desember 2020 lalu.
“Di penghujung Tahun 2020 lalu, beberapa orang dari Rumah BUMN mendatangi tempat produksi kami yang saat itu masih berlantai tanah dengan ukuran dua kali dua meter,” kenang Nanang.
Saat pertemuan antara Nanang dan pihak Rumah BUMN Padang Sidempuan itu, Nanang dilontarkan berbagai pertanyaan. Mulai dari sumber mendapatkan bahan baku kopi, proses pengelolaan, kapasitas produksi hingga kendala-kendala yang dihadapi.
Semua pertanyaan dijabarkan Nanang apa adanya. Termasuk hambatan terbesar yang dihadapi kelompok tani yang dipimpinnya, yakni proses pengeringan biji kopi sebelum diolah ke tahap selanjutnya.
Beberapa waktu setelah pertemuan itu, PLN lewat Rumah BUMN Padang Sidempuan kembali menghubungi Nanang dan menawari berupa peralatan produksi, pelatihan manajemen modern, pemasaran digital, dan pengadaan greenhouse pengering kopi.
Nanang pun menyambut baik semua tawaran itu. lebih-lebih greenhouse pengering kopi. Greenhouse ini merupakan ruangan atau bangunan yang dilapisi alumunium atau seng, dimana kondisi suhu dan kelembabannya dapat diatur dengan baik.
Dalam perjalan waktu, greenhouse pengering kopi yang dinilainya hemat energi dan ramah lingkungan itu, akhirnya bisa mengatasi salah satu kendala terbesar yang dihadapi MJCoffee Sipirok, yaitu pengeringan biji kopi.
Hasilnya, produktivitas kelompok tani itu pun meningkat dengan kemampuan pengeringan biji kopi mencapai satu ton per bulannya, atau meningkat lima kali lipat dari kapasitas sebelumnya yang dikelola secara tradisional.
Di sisi lain, bertambahnya kapasitas produksi kopi juga berimbas pada meningkatnya pendapatan MJCoffee Sipirok hingga tiga kali lipat dari sebelumnya rata-rata Rp30 juta menjadi kisaran Rp95 juta.
Tak hanya itu, MJCoffee Sipirok kini dapat memenuhi permintaan kota-kota besar di luar Sipirok. Seperti dari Medan, dan kota-kota di Pulau Jawa dan Kalimantan. Bahkan belakangan, produk MJCoffee Sipirok sudah merambah pasar global, seperti Malaysia, Singapura dan negara lainnya.
Sepanjang 2022, MJCoffee Sipirok mencatat telah berhasil mengekspor 500 kilogram Green Bean Coffee ke Singapura dan 1,5 ton varian kopi serupa ke Malaysia.
Ia mengakui, peningkatan produksi dan perluasan pasar penjualan demikian, juga tidak lepas dari diikutsertakannya produk MJCoffee Sipirok dalam berbagai pameran yang didukung oleh PLN.
Tidak berpuas diri sampai disitu, peningkatan kualitas dan pengembangan pasar pun terus dilakukan dengan memanfaatkan marketplace. Kedepannya, untuk merambah ke pangsa pasar syariah, MJCoffee Sipirok tengah menyiapkan sertifikasi halal untuk produk kopi andalannya, “Green Bean Coffee”.
“Kami sangat berterima kasih kepada PLN. Bantuan ini benar-benar bermanfaat besar dalam peningkatan produksi MJCoffee Sipirok. Kami akan terus berupaya meningkatkan jumlah produksi untuk ekspor Kopi Sipirok ke pasar yang lebih luas,” tutur Nanang.
Rasa terima kasihnya juga ia sampaikan kepada BUMN kelistrikan ini, karena berkat kepedulian PLN, MJCoffee Sipirok kini berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Setidaknya, ada 20 orang anggota yang tergabung dalam Kelompok Tani Kopi Sipirok Maju Jaya ini.
Selanjutnya, Nanang meyakini kapasitas produksinya bisa lebih tinggi dari saat ini ketika usahanya sudah memiliki mesin sortasi buah dan biji kopi atau “mesin grader”. Sortasi buah kopi digunakan di tahap pertama setelah didapatkan dari panen serta sortir ketika biji kopi sudah kering dan dikupas.
Penyortiran buah kopi dan saat pemilahan biji kopi tersebut, juga bisa sangat berpengaruh terhadap kualitas kopi yang nanti dihasilkan.
PLN Peduli
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Utara Tonny Bellamy berharap, melalui dukungan PLN tersebut, Kopi Sipirok bisa membawa berkah bagi pembangunan ekonomi daerah.
Hal itu kata dia sejalan dengan komitmen PLN dalam menerapkan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) atau lingkungan, sosial, dan tata kelola (LTS) perusahaan untuk menciptakan pembangunan ekonomi berkelanjutan yang berdampak positif bagi masyarakat.
“Bila produksi kopi semakin banyak, maka akan semakin banyak pula menyerap tenaga kerja baru dan dapat memberikan berkah bagi warga sekitar,” terang Tonny.
Secara geografis, lanjutnya, Kabupaten Tapanuli Selatan yang memiliki luas wilayah 6.030,47 km2, merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis wilayah seperti ini membuat cita rasa kopi dari dataran tinggi Sumatera sangat populer. Tidak hanya di Indonesia namun hingga mancanegara.
Senapas dengan program PLN Peduli, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, melalui Bupati H. Dolly Pasaribu, juga memberikan dukungan dan perhatian penuh terhadap kemajuan seluruh UMKM Kopi di Tapsel, dan yang terlibat di dalamnya.
Berbagai kebijakan dan program telah digulirkan Bupati H. Dolly untuk memajukan UMKM Kopi dan petani kopi Tapsel. Diantaranya, menetapkan setiap hari Jumat sebagai hari minum kopi. Ajakan ini tertuang dalam Surat Edaran Bupati Tapsel Nomor 510.1/6091/2021, tertanggal 28 Oktober 2021 tentang Penetapan Hari Jumat sebagai Hari Minum Kopi.
Melalui SE itu, Bupati Tapsel mengajak jajarannya dan masyarakat untuk minum kopi asli yang diproduksi masyarakat Tapsel, yakni kopi arabika Sipirok. Bukan kopi sachet maupun produk luar Tapanuli Selatan. Langkah ini, kata Bupati Dolly, untuk mempromosikan Kopi Sipirok sebagai salah satu produk unggulan daerah, dan memajukan potensi ekonomi bagi masyarakat petani kopi.
“Hal ini sebagai langkah promosi dan peningkatan konsumsi kopi asli Sipirok. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, khususnya petani kopi arabika Sipirok,” kata Bupati Dolly kepada Abdullah Karim Siregar, pada Kamis (14/12/2022).
Selain menerbitkan surat edaran, lanjut Bupati Dolly, Pemkab Tapsel juga rutin setiap tahun menggelar “Sipirok Kopi Festival”. Tujuannya untuk lebih mengenalkan Kopi Sipirok dan digemari masyarakat luas. Festival ini terakhir kali digelar di Alun-alun Pasar Sipirok, pada 12-13 November 2022 lalu.
Berdayakan UMKM
Pengalaman MJCoffee Sipirok merupakan satu dari sekian banyak kontribusi yang telah dilakukan Perusahaan Listrik Negara dalam memberdayakan dan meningkatkan perekonomian masyarakat lewat PLN Peduli di berbagai penjuru nusantara. PLN Peduli sendiri merupakan implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN di bawah Rumah BUMN atas komitmen untuk terus menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, PLN akan terus berkomitmen untuk ikut berkontribusi bagi perekonomian, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) hingga pelestarian lingkungan. TJSL PLN, terangnya, fokus pada bidang pendidikan sebagai pilar sosial, dan pengembangan Usaha Mikro Kecil (UMK) untuk mendukung pilar ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Harapannya, setiap program TJSL PLN dapat menciptakan Creating Share Value (CSV) yang memberi manfaat atau nilai tambah kepada perusahaan, masyarakat dan juga lingkungan.
Hingga bulan Oktober 2022, PLN telah melaksanakan 2.537 program yang tersebar dalam empat pilar, yaitu pilar sosial sebanyak 871 program, pilar ekonomi (995 program), pilar lingkungan (594 program), dan pilar hukum dan tata kelola (77 program).
Program TJSL PLN tersebut telah diterima lebih dari 285 ribu orang penerima manfaat dan membantu 25.095 orang mendapatkan pekerjaan atau tambahan penghasilan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Komitmen dan langkah nyata itu membawa perusahaan ini dianugerahi 19 penghargaan sekaligus dalam ajang Indonesian SDGs Award (ISDA) 2022. Pemberian anugerah ISDA 2022 ini berlangsung di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, pada 22 November 2022. Pada ajang ini, Darmawan Prasodjo dianugerahi Top Leadership Corporate for SDGs.
Selain itu, PLN juga meraih beberapa kategori lain, di antaranya The Most Committed Corporate for SDGs on Social Philar, The Most Committed Corporate for SDGs on Economy Phillar, The Most Committed Corporate for SDGs on Environment Phillar, dan lain-lain.
ISDA Awards sendiri diselenggarakan oleh Corporate Forum for CSR Development (CFCD), yaitu perhimpunan perusahaan yang aktif dalam diskursus dan kemajuan corporate social responsibility (CSR) dan sustainability di Indonesia.
Saat itu, Ketua umum CFCD Thendri Supriatno mengatakan, penghargaan diberikan kepada perusahaan yang melakukan penghematan energi, melakukan konservasi lingkungan, melakukan kegiatan sosial di masyarakat serta berbagai hal positif lainnya.
Selain itu, pada 9 Desember 2022, PLN juga meraih penghargaan dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai BUMN yang mampu meningkatkan produktivitas UMKM. Penghargaan ini diberikan atas upaya PLN mendampingi dan memberdayakan UMKM melalui pelatihan kepada pelaku di bawah naungan Rumah BUMN.
Menteri BUMN, Erick Thohir, menegaskan bahwa seluruh BUMN berkomitmen turut serta mendorong pelaku UMKM dalam membangun perekonomian di Indonesia.
“Kami sepenuhnya menyadari bahwa tulang punggung perekonomian bangsa ini justru berada di pelaku UMKM. Jadi, untuk membangun Indonesia, penting untuk memastikan pelaku UMKM ini mampu menjalankan usahanya tanpa halangan berarti,” kata Erick Thohir.
Salurkan Energi Hijau
Pemberdayaan dan meningkatkan perekonomian masyarakat lewat PLN Peduli, juga satu dari jamak agenda PLN yang tak hanya sekadar menghadirkan listrik yang andal bagi masyarakat. Akan tetapi juga menyalurkan energi hijau yang ramah lingkungan melalui komitmen transisi energi yang tertuang dalam rencana strategis perusahaan dalam pencapaian target Net Zero Emission (NZE) di 2060.
Komitmen itu dijalankan dengan mengutamakan potensi alam yang berlimpah sekaligus menggerakan perekonomian nasional. Sebab, dengan menggunakan produk lokal dalam pembangunan pembangkit, maka ekonomi Indonesia bisa ikut terangkat.
PLN dengan tegas menyatakan siap memimpin transisi energi. Komitmen ini pernah disampaikan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dihadapan delegasi G20 di forum “Sustainable Finance for Climate Transition Roundtable” di Bali pada 14 September 2022 lalu.
Melalui forum itu, PLN menunjukkan komitmen Indonesia dalam transisi energi dan mengajak keterlibatan dunia untuk mewujudkan target tersebut. Darmawan dalam paparannya menyatakan bahwa PLN sendiri telah memiliki roadmap proyek yang berlangsung dari 2021 hingga 2060 mendatang.
Melalui langkah strategis yang telah disusun maupun yang sudah dilakukan, tujuannya tidak lain untuk menghadirkan ruang hidup yang lebih baik bagi generasi mendatang.
“Visi PLN ke depan tidak hanya menghadirkan listrik yang andal bagi masyarakat, tapi juga menyalurkan energi hijau yang ramah lingkungan,” tegas Darmawan.
Misalnya terkait pembangunan dan pemanfaatan pembangkit energi baru terbarukan (EBT). Pengembangan EBT PLN telah tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030. Dalam RUPTL Green ini, porsi penambahan pembangkit listrik berbasis EBT sekitar 51,6 persen dari total kapasitas pembangkit baru atau sekitar 20,9 GW hingga 2030.
Selain itu, PLN juga mendorong ekosistem kendaraan bermotor listrik di Indonesia. Dukungan ini dilakukan dengan penyediaan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) tersebar di seluruh Indonesia.
Tak sekadar lip service, upaya pencapaian penyaluran energi hijau yang ramah lingkungan itu telah dibuktikan PLN. Pada tahun lalu, perusahaan telah membangun pembangkit EBT sebesar 623 megawatt (MW) yang mayoritas adalah pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Sedangkan di 2022 ini, PLN akan menambah kapasitas terpasang pembangkit EBT sebesar 228 MW. Rinciannya, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) akan beroperasi 45 MW, PLTA dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTM) akan bertambah 178 MW, dan pembangkit listrik tenaga bioenergi sebesar 5 MW.
Mengurangi Emisi Karbon
Selain menggencarkan pembangunan pembangkit EBT, PLN juga secara paralel menjalankan skenario mempensiunkan lebih awal (early retirement) pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) secara bertahap hingga 2056 mendatang.
Selain mempensiunkan PLTU untuk bisa mengurangi emisi karbon, PLN menerapkan teknologi substitusi batubara dengan biomassa (co-firing) untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Hal ini menjadi bukti keseriusan PLN dalam mendukung upaya pemerintah menekan emisi karbon dan mempercepat pemenuhan bauran EBT 23 persen pada 2025.
PLN telah menggunakan teknologi co-firing sejak 2020 silam. Hingga Mei 2022, sebanyak 32 PLTU sudah menerapkan co-firing. Hasilnya, PLN dapat memproduksi listrik hijau setara 487 MegaWatt hours (MWh). Implementasi co-firing ini juga mampu memberikan dampak penurunan emisi karbon sebesar 184 ribu ton CO2 dan gas rumah kaca per April 2022.
Pada tahun ini, PLN menargetkan teknologi co-firing diterapkan di 35 PLTU, dengan total kebutuhan biomassa 450 ribu ton dan dapat menekan emisi CO2 340 ribu ton CO2.
Jumlah ini akan meningkat lima kali lipat pada tahun depan, PLN memerlukan 2,2 juta ton biomassa. Kebutuhan biomassa akan terus meningkat hingga 10,2 juta ton pada 2025 sehingga dapat menekan emisi karbon sebesar 11 juta ton CO2 dan gas rumah kaca setiap tahunnya.
Program ini ditargetkan rata-rata menggunakan 10-20 persen dari kapasitas PLTU PLN untuk co-firing atau ekuivalen sekitar 2.700 MW. Co-firing akan terus dilakukan PLN minimal sampai 52 titik PLTU bisa menggunakan teknologi ini pada 2025.
Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) Antonius Aris Sudjatmiko, mengungkapkan, PLN Group telah membangun rantai pasok biomassa yang sustainable untuk memenuhi kebutuhan co-firing dalam jangka panjang. PLN juga dibantu oleh pemerintah untuk menerapkan standar biomassa yang berkualitas.
Menurutnya, potensi biomassa Indonesia sangat besar dan tersebar di seluruh wilayah Nusantara, meski di beberapa wilayah belum dikembangkan secara maksimal. Sementara dalam peningkatan ekonomi kerakyatan melalui co-firing, PLN telah menjalin kerja sama dengan 12 pemerintah daerah untuk pemanfaatan biomassa sampah.
PLN juga berkolaborasi dengan Perhutani untuk penyediaan biomassa serbuk gergaji dan bersinergi dengan berbagai elemen masyarakat untuk penyediaan biomassa sekam padi, serpihan kayu, hingga cangkang sawit.
“Melalui program ini, kami tidak hanya bermaksud mengganti batu bara dengan biomassa, tetapi juga membangun rantai pasok biomassa yang andal dengan melibatkan masyarakat. Sehingga dalam penyediaannya punya dampak ekonomi untuk masyarakat secara langsung,” tegas Antonius.
Langkah transisi energi PLN itu juga dilakukan dengan menggulirkan program dieselisasi melalui konversi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di daerah remote dengan pembangkit listrik berbasis EBT melalui skema hybrid.
Program lain yang disiapkan PLN untuk mendukung transisi energi yaitu ekspansi gas, pengembangan teknologi penyimpanan listrik dalam bentuk baterai berukuran besar, hingga teknologi penangkapan karbon dan hidrogen. PLN juga terus meningkatkan efisiensi energi dan menekan susut jaringan.
Pentingnya Kolaborasi
Untuk menyukseskan semua upaya mendukung Carbon Neutral 2060, setidaknya PLN membutuhkan minimal USD 500 miliar. Inilah alasan PLN juga memetakan sejumlah peluang kerja sama untuk mendukung pencapaian NZE 2060.
“Kuncinya adalah kolaborasi. PLN membuka diri untuk bekerja sama baik dari sisi investasi, financial fund, maupun sharing teknologi untuk mewujudkan semua rencana tersebut,” jelas Darmawan.
Sejauh ini, PLN telah memperoleh dukungan finansial dari sejumlah perbankan internasional dalam mendukung pembangunan pembangkit ramah lingkungan. Salah satunya, dukungan pendanaan dari sindikasi tiga bank internasional yaitu Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), Societe Generale, dan Standard Chartered Bank.
Dukungan finansial itu diperuntukkan dalam pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Cirata, Purwakarta, Jawa Barat–PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 145 MWAc.
PLN juga mendapatkan kucuran pendanaan senilai USD 380 juta dari International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) yang merupakan bagian dari World Bank Group untuk proyek PLTA Upper Cisokan melalui skema Subsidiary Loan Agreement (SLA).
Nantinya, PLTA Upper Cisokan yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur, Jawa Barat ini, memiliki total kapasitas 1.040 megawatt (MW)
“Kami bersyukur di tengah periode likuiditas dan pasar pinjaman yang serba sulit, PLN berhasil mengupayakan tercapainya efisiensi biaya dengan menerapkan struktur yang dirancang untuk menarik kreditur internasional,” tambah Darmawan.
Leadership Tinggi
Keberhasilan PLN menyalurkan energi hijau yang ramah lingkungan melalui komitmen transisi energi menuju NZE pada 2060 juga terbukti dengan diraihnya penghargaan “Green Initiative Awards” atas aksi nyata perseroan dalam menjalankan ekonomi hijau dan mendukung transisi energi di Tanah Air pada Kamis (1/12/2022).
Penghargaan Green Initiative Awards yang diselenggarakan oleh Katadata ini, merupakan apresiasi yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang menerapkan berbagai inisiatif dalam meningkatkan dampak positif bagi lingkungan dan menciptakan sistem yang berkelanjutan.
Co Founder dan CEO Katadata Metta Dharmasaputra menyatakan, penghargaan diberikan karena PLN karena memiliki leadership yang tinggi dalam transisi energi. PLN dianggap sebagai salah satu perusahaan yang memimpin transisi energi di Indonesia karena pencapaian peningkatan bauran energi baru dan terbarukan.
“PLN merupakan salah satu perusahaan yang kami nilai memiliki leadership yang sangat tinggi dalam transisi energi. Karena ini menjadi tema dalam KTT G20 juga yang baru kita lalui dengan sukses di Bali,” kata Metta.
Dalam gelaran KTT G20 Indonesia, lanjut Metta, PLN juga terdepan dalam mempercepat terbentuknya ekosistem dari kendaraan listrik serta memiliki program peningkatan bauran energi bersih. Termasuk membuat satu pilot project PLTS Terapung yang saat itu menjadi showcase Indonesia yang diperlihatkan kepada dunia.
Sebelumnya, perseroan juga meraih penghargaan “The Best BUMN 2022” in Category Energy, Oil, and Gas Industry atas hasil inovasi melalui transformasi sistem digitalisasi dan Good Corporate Governance (GCG) yang dilakukan perseroan. dari Warta Ekonomi Group pada Rabu (30/11/2022) lalu. Abdullah Karim Siregar