Kabul, PUBLIKASI – Pemerintahan Taliban merumahkan 3.000 pekerja perempuan untuk sementara waktu hingga situasi aman. Hal itu disampaikan Wali Kota Kabul Hamdullah Noman. Perempuan dapat bekerja jika pekerjaan yang mereka lakukan tidak dapat dikerjakan oleh pekerja laki-laki.
Ia mengatakan, beberapa karyawan perempuan akan terus bekerja. Misalnya, perempuan yang bekerja sebagai petugas kebersihan toilet perempuan.
“Namaun untuk posisi yang bisa diisi (laki-laki) kami telah menyuruh mereka (perempuan) untuk tinggal di rumah sampai situasinya normal. Gaji mereka akan tetap dibayarkan,” ujar Noman, dilansir BBC, hari ini, Senin (20/9).
Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan, para pekerja perempuan diperintahkan untuk tinggal di rumah sampai situasi keamanan membaik. Ini adalah pembatasan terbaru yang diterapkan oleh Taliban kepada pada pekerja perempuan.
Sejak Taliban berkuasa pada 1990-an, perempuan dilarang mengenyam pendidikan dan bekerja. Setelah merebut Afghanistan pada Agustus lalu, Taliban berjanji akan menghormati hak-hak perempuan dalam kerangka hukum Islam.
Hal ini membuat puluhan aktivis perempuan melakukan aksi protes di luar Kementerian Perempuan Afghanistan pada Ahad (19/9). Mereka melakukan aksi protes setelah pemerintahan Taliban menutup kementerian tersebut dan menggantinya dengan Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan. *Ristia/Sudin