Pengamat Minta Indonesia Bujuk Rusia di G20 Hentikan Perang Lawan Ukraina

Jakarta, PUBLIKASI – Pengamat mengatakan Indonesia perlu membujuk Rusia di acara G20 untuk menghentikan perang di Ukraina, menyusul ramai pembahasan rencana Presiden Vladimir Putin menghadiri forum tersebut.

Pengamat politik Universitas Islam Negeri Jakarta, Achmad Ubaedillah, mengatakan kehadiran Putin di G20 di Bali menjadi tantangan tersendiri dan Indonesia harus bisa memanfaatkan kesempatan ini.

Ia mengatakan Indonesia harus menebus, yang dalam pandangan Rusia bisa jadi sebagai kesalahan, karena turut menandatangani resolusi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) soal invasi di Ukraina.

Dalam resolusi itu, PBB menuntut Rusia segera dan sepenuhnya menarik pasukan militer di Ukraina tanpa syarat.

Ubaedillah juga mengatakan kepemimpinan Indonesia dalam G20 diuji di tengah konflik yang berkecamuk di Eropa Timur. RI, lanjutnya, harus bisa menunjukan peran presidensi di forum internasional ini.

“Indonesia harus meyakinkan anggota G20 bahwa Rusia bisa diajak berdamai. Ini juga momentum bagi Indonesia untuk berperan dalam upaya damai Rusia-Ukraina,” ucap Ubaedillah.

Jika Indonesia tak melakukan sekarang, kapan lagi punya kesempatan tersebut. Akademisi kampus Islam di Jakarta itu menilai G20 adalah peluang di depan mata.

“Lebih-lebih Putin sudah menunjukkan niatnya utk menghadiri pertemuan G20,” papar dia.

Jika Indonesia tak bisa ‘mengamankan’ situasi dalam G20 nanti, insiden Putin walk out dari forum kemungkinan bisa terulang sebagaimana 2014 lalu di Australia.

“Putin sangat mungkin akan WO jika dirinya ‘dipermalukan’ dalam pertemuan G20 di Indonesia nanti,” tutur Ubaedillah.

Saat KTT G20 di Australia, Putin mendapat tekanan kuat dari Barat atas dugaan dukungan kelompok separatis di Ukraina timur.

Putin mengklaim keputusannya keluar dari forum tak berkaitan dengan ketegangan di Ukraina timur. Ia berdalih jam terbang cukup panjang dan ingin punya waktu tidur lebih banyak.

Indonesia, kata Ubaedillah, bisa membujuk negara yang berkonflik di Benua Biru itu melalui jalur diplomatik sebelum pertemuan puncak G20.

“Jalur-jalur ini harus dimainkan sebelum puncaknya perhelatan G20. Untuk upaya perdamaian, PBB pasti mendukung inisiatif Indonesia dan anggota PBB lainnya,” ujar dia lagi.

Sebelumnya, publik digemparkan dengan pernyataan Duta Besar Rusia di Jakarta, Lyudmila Vorobieva, yang menyebut Putin berencana hadir dalam KTT G20 ini.

“Tergantung pada situasi, sejauh ini dia (Putin) mau datang ke KTT G20,” kata Vorobieva saat ditanya apakah Putin akan hadir dalam pertemuan tersebut saat jumpa pers di Jakarta pada Rabu (23/3).

Sementara sejumlah negara Barat mengkhawatirkan rencana ini, jika Putin betul-betul hadir dalam forum itu.

Ukraina bahkan meminta negara-negara memboikot Rusia dari acara internasional. Sebab, kehadiran Putin di acara internasional mana pun berarti menghina demokrasi, martabat manusia, dan supremasi hukum.

Rencana kedatangan Putin mencuat di tengah desakan sejumlah negara agar mengeluarkan Rusia dari kelompok G20 sebagai respons atas tindakan mereka ke Ukraina. *Arya

Leave a Comment!